KODE IKLAN DFP 1 Gangguan Skizofrenia | NU Skin Room

Gangguan Skizofrenia

KODE IKLAN 200x200
KODE IKLAN 336x280


GANGGUAN SKIZOFRENIA
Dalam suatu pertengkaran, Vicent van Gogh pernah melemparkan sebuah gelas absinta
kepada temannya Paul Gaugiun, seorang pelukis asal Perancis. Kemudian Gauguin membawa
pulang seniman gila itu dan menidurkannya. Pada malam berikutnya, van Gogh mendatangi
Gauguin dengan membawa pisau silet. Akan tetapi tiba-tiba ia kembali ke kamarnya. Dan
di situ ia memotong sebagian telinganya (tepatnya pada bagian atas) karena luapan rasa
bersalah. Potongan telinga tadi diberikannya kepada seorang pelacur yang bernama
Rachel. "Jaga baik-baik benda ini, " katanya dalam surat terakhir van Gogh kepada
saudaranya yang ditemukan pada saat van Gogh meninggal dunia. fa menulis, "Nah,
karyaku, aku meresikokan kehidupanku untuknya, pikiranku setengah tenggelamkarenanya"
(Prabowo, 1995).
Fenomena yang dial ami oleh pelukis terkenal dari Belanda, Vincent van Gogh di atas
mempakan fenomena klasikpenderita gangguan skizofrenia. Peristiwa "memotong telinganya
sendiri" sampai sekarang masih menjadi perdebatan sejumlah ahli hingga kini.
Lalu apa yang dimaksud dengan gangguan skizofrenia?
1. Pengertian
Skizofrenia adalah satu istilah untuk beberapa gangguan yang ditandai dengan kekacauan
kepribadian, distorsi terhadap realitas, ketidakmampuan untuk berfungsi dalam kehidupan
sehari-hari (Atkinson dkk., 1992), perasaan dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya,
waham delusi, dan gangguan persepsi (PPDGJ, 1983).
Gangguan Skizofreniaini terdapat pada semua kebudayaan dan mengganggu di sepanjang
sejarah, bahkan pada kebudayaan-kebudayaan yang jauh dari tekanan modem sekalipun.
Umumnya gangguan ini muncul pada usia yang sangat muda, dan memuncak pada usia antara
25-35 tahun. Gangguan yang muncul dapat terjadi secara lambat atau datang secara tiba-tiba
pada penderita yang cenderung suka menyendiri yang mengalami stres (Atkinson dkk.,
1992).
Berdasarkan hasil penelitian di Eropa dan Asia, maka prevalensi penderita skizofrenia
adalah 0,2% sampai 1%. Semen tara di Indonesia berdasarkan survei di beberapa rumah sakit
adalah 0,05% sampai 0,15% (PPDGJ, 1983).
2. Ciri-ciri Skizofrenia
Penderita Skizofrenia menderita penyakitnya secara cepat atau lambat, dengan gejalagejala
yang bermacam-macam. Beberapa ciri utama penderita Skizofrenia yang tidak selalu
muncul pada setiap penderitanya antara lain adalah (Atkinson dkk., 1992):
a. Kekacauan Pikiran dan Perhatian
b. Kekacauan Persepsi
c. Kekacauan Afektif
d. Penarikan Diri dari Realita
e. Delusi dan Halusinasi
Kekacauan Pikiran dan Perhatian
Menurut Atkinson dkk. (1992) kekecauan pikiran di sini merupakan kesulitan umum
untuk menyaring stimulusyang relevan.Padakebanyakan orang normal pemusatan perhatian
dapat dilakukan secara efektif.Dariberagamnyainformasiyangmasuk,kita dapat menyeleksi
stimulusmanayangrelevan.Sementarapadapenderitaskizofreniakemampuaninimenghilang,
karenajika ia menghadapi banyak stimulus pada waktu yang bersamaan, maka ia sulit untuk
mengambil makna dan menyeleksi masukan-masukan yang beragam terse but.
Ketidakmampuan menyaring stimulus ini ditandai dengan pembicaraan yang tidak berujung
pangkal.
Kekacauan Persepsi
Pada penderita skizofrenia akut seringkali mengalami bahwa dunia tampak berbeda
baginya. Suara terdengar lebih keras, wama terlihat lebih mencolok, dan tubuhnya terlihat
tidak sarna (misalnya tangan tampak lebih panjang atau lebih pendek, kaki sangat panjang,
dan mata tampak keluar dari wajah). Beberapa penderita sudah tidak dapat mengenali dirinya
sendiri di dalam cermin atau melihat bayangannya sendiri seperti bayangan rangkap tiga
(Atkinson dkk., 1992).
Kekacauan Afektif
Penderita skizofrenia umumnya tidak dapat memberikan respons emosional yang
normal dan wajar. Mereka seringkali pasif dan tidak responsif terhadap situasi-situasi yang
seharusnya membuat mereka sedih atau gembira. Kadang-kadang mereka mengungkapkan
perasaan yang tidak sesuai dengan situasi atau pikiran yang diungkapkan (Atkinson dkk.,
1992).
Gambar VIII.3. Fragmentasi Persepsi
Gambar ini dibuat oleh seorang wan ita penderita skizofrenia yang mengalami kesu/itan
dalam menghayati wajah sebagai satu keseluruhan
Sumber: Atkinson dkk. (1993)
Penarikan Diri dari Realita
Selama mengalami penderitaan skizofrenia seseorang cenderung menarik diri dari dari
pergaulan dengan orang lain dan cenderung asyik dengan dunianya sendiri (khayalan dan
pikirannya sendiri). Keasyikan dengan diri sendiri tersebut seringkali disebut dengan
autisme. Keasyikan terhadap diri sndiri dapat menjadi amat intens, sehingga penderita
mengalami disorientasi waktu (tidak tahu hari, tanggal, dan bulan) dan disorientasi tempat
(tidak tahu dimana dia berada). Penarikan diri dari realita ini pada penderita yag akut dapat
bersifat sementara. Sedangkan pada penderita kronis, penarikan diri dapat bertahan dan
berkembang sedemikian rupa, sehingga penderita menjadi tidak responsif pada peristiwaperistiwa
ekstemal, tetap diam dan tidak bergerak selama berhari-hari, serta harus dirawat
seperti bayi (Atkinson dkk., 1992).
Gambar VIllA. Gambar Seorang Anak Penderita Autisme
Sumber: Meyer & Salmon (1984)
Delusi dan Halusinasi
Delusi adalah suatu perasaan keyakinan atau kepercayaan yang keliru, yang tidak dapat
diubah lewat penalaran atau dengan disajikannya fakta-fakta. Delusi yang sifatnya menetap
dan sistematis akan berakibat menjadi abnormal (Chaplin, 1995). Delusi pada penderita
skizofrenia berupa keyakinan bahwa kekuatan eksternal mencoba mengendalikan pikiran
dan tindakannya.Delusitersebutjuga meliputikeyakinanbahwapikirannyadapatdipancarkan
pada dunia sekelilingnya, sehingga merasa bahwa pikiran-pikirannya dapat diketahui oleh
sekelilingnya (Atkinson dkk., 1992).
Beberapajenis delusi pada penderita skizofrenia antara lain adalah delusi paranoid dan
waham kebesaran. Delusiparanoid atau delusi persekusi adalah adanya keyakinan penderita
bahwa ada orang atau kelompok tertentu mengancam atau secara diam-diam merencanakan
akan melawan penderita. Sementara waham kebesaran adalah keyakinan bahwa dirinyalah
yang kuat atau yang terpenting (Atkinson dkk., 1992).
Halusinasi adalah persepsi atau tanggapan yang keliru atau palsu, dimana penderita
menghayati gejala-gejala yang dikhayalkan sebagai hal yang nyata. Halusinasi adakalanya
dialami juga oleh orang normal (Chaplin, 1995). Pada penderita skizofrenia, delusi bisa
berdiri sendiri maupun berkaitan dengan halusinasi. Halusinasi pada penderita skizofrenia
bisa secara auditoris, visual, maupun sensoris. Halusinasi auditoris biasanya merupakan
suara-suara yang mengatakan kepada penderita tentang sesuatu yang harus dilakukannya.
Halusinasi visual adalah keyakinan melihat suatu objek tertentu yang tidak biasa, misalnya
melihat makhluk aneh atau malaikat. Sementara halusinasi sensoris tidak banyak terjadi,
misalnya keyakinan bahwa terdapatbau busukyang terpancar dari tubuh penderita (Atkinson
dkk., 1992).
3. Tipologi Skizofrenia
Menurut Baron (1989) Skizofrenia dapat dikategorikan lagi menjadi empat yaitu:
Disorganized Schizofrenia, Paranoid Schizofrenia, Catatonic Schizofrenia, & Undifferentiated
Schizofrenia. Masing-masing tipe Skozofrenia tersebut akan dijabarkan berikut ini:
Disorganized Schizofrenia
Disorganized Schizofrenia seringkali disebut dengan istilah Skizofrenia Hebefrenik
(kacau), dimana ciri yang menonjol adalah ketololan dan inkoherensi. Para penderita
seringkali tertawa atau menangis keras-keras untuk sebab yang tidak jelas dan berceloteh
tanpa makna dalam beberapajam. Beberapa di antaranya kadang-kadang mengalami delusi
dan halusinasi, meski kabur dan tidak jelas (Baron, 1989).
Paranoid Schizofrenia
Pada tipe ini, penderita mengalami delusi persekusi, yaitu adanya keyakinan melihat
orang-orang berkomplotan untuk merusak atau menyerang penderita dimana saja berada.
Mereka juga mengalami waham kebesaran. Dari kedua delusi tersebut, delusi penderita
makin terinci dan sistematis, sehingga pada suatu titik tertentu penderitaannya tersebut
seperti suatu alur dalam novel (Baron, 1989).
Catatonic Schizofrenia
Penderita skizofrenia katatonik banyak mengalami kejadian-kejadian aneh dan ganjil
(bizzare) secara menyeluruh. Penderita ini menunjukkan salah satu perilaku dari "dingin"
(beku total) atau justru mudah sekali terangsang. Seringkali mereka berada di antara kedua
sifat tersebut. Misalnya duduk seperti orang lumpuh untuk beberapa waktu yang lama,
kemudian secara tiba-tiba diinterupsi dengan suatu tindakan tertentu.Tipe inimerupakan tipe
skizofrenia yang jarang terjadi (Baron, 1989).
Undifferentiated Schizofrenia
Skizofrenia jenis ini adalah bagi penderita yang tidak dapat dikategorikan pada skizofrenia
tipe yang lain, termasuk di dalamnya skizofrenia yang menunjukkan adanya gangguan pada
pikiran, persepsi, emosi, meski tidak terlihat aneh pada tipe yang lainnya (Baron, 1989).
Residual



F. GANGGUANKEPRIBADIAN
Gangguan Kepribadian adalah pola-pola perilaku maladaptif yang sifatnya kronis, dan
sepenuhnya tidak merasakan bahwa dirinya mengalami gangguan (Meyer dan Salmon,
1984). Beberapa ciri lain penderita gangguan kepribadian antara lain adalah: kepribadian
rnenjadi tidak fleksibel, tidak wajar atau tidak dewasa dalarnmenghadapi stres atau di dalam
memecahkan masalah. Mereka umumnya tidak kehilangan kontak dengan realitas dan tidak
menunjukkan kekacauan perilaku yang mencolok seperti pada penderita skizofrenia. Penderita
ini biasanya dialami oleh para remaja dan dapat berlangsung sepan jang hidup (Atkinson dkk.,
1992). Beberapa bentuk gangguan kepribadian antara lain adalah Narsistis, Kepribadian
Tergantung, dan Kepribadian Antisosial.
Narsistis
Narsistik atau cinta pada diri sendiri digambarkan sebagai orang yang memiliki rasa
kepentingan diri yang melambung dan dipenuhi dengan khayalan-khayalan sukses, selalu
mencari pujian dan perhatian, serta tidak peka terhadap kebutuhan orang lain, malahanjustru
seringkali mengeksploitasinya (Atkinson dkk., 1992).
Kepribadian Tergantung
Kepribadian tergantung atau dependent personality disorder ditandai dengan adanya
orientasi hidup yang j2asif, tidak mampu mengambil keputusan atau menerima tanggung
jawab, cenderung/men~kan diri sendiri, dan selalu berharap memperoleh dukungan
orang lain (AtkiJ}sondkk., 1992).
Kepribadian Antisosial
Daribeberapajenis gangguankepribadian,kepribadianantisosial ataupsikopath agaknya
yang paling sering dikaji dan diagnosisnya paling handal. Para penderita umumnya hanya
sedikit sekali memiliki tanggungjawab, moralitas, dan perhatian kepada orang lain. Perilaku
mereka hampir seluruhnya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak
terbiasa menggunakan hati nuraninya. Jika pada orang yang normal menyadari bahwa suatu
"kesenangan" pada usia muda terkadang harus bisa ditunda untuk kepentingan orang lain,
maka tidak demikian halnya dengan penderita psikopath, yang cenderung hanya
memperhatikankemauannya sendiri.Perilakunya impulsif,segeramemuaskankeinginannya,
dan tidak dapat menahan frustrasi (Atkinson dkk., 1992).
Kepribadian Antisosial sebenamya merupakan istilah yang tidak tepat, karena ciri-ciri
penderitanya tidak menggambarkan perilaku atau tindakan antisosial. Perilaku antisosial
disebabkan oleh beberapa hal, termasuk di dalamnya menjadi anggota gang atau tindakan
kriminal, kebutuhan akan status dan perhatian, hilangnya kotak dengan realita, dan
ketidakmampuan mengendalikan impuls. Kebanyakan kenakalan remaja yang disertai
dengan kriminalitas berkaitan dengan kepentingan keluarga (ekonomi) atau kepentingan
kelompok (gang). Sementara pada kepribadian antisosial hampir tidak berperasaan dan
agaknya tidak merasa bersalah dan mau menyesalinya, meski tindakan yang mereka lakukan
menyakitkan orang lain (Atkinson dkk., 1992).
Dua ciri yang paling umum penderita kepribadian antisosial adalah tidak dimilikinya
rasa cinta (empati kurang, tidak setia) dan perasaan bersalah atau guilty feeling (Atkinson
dkk., 1992)

KODE IKLAN 300x 250
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==
KODE IKLAN DFP 2
KODE IKLAN DFP 2